mining

Selasa, 06 November 2012

SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDONESIA SEBELUM KEMERDEKAAN

1.  Kerajaan Hindu di Indonesia Sebelum Kemerdekaan: 
           Tonggak perkembangan agama Hindu di Indonesia dimulai sejak permulaan abad Masehi sekitar tahun 400 masehi. Mulai abad inilah Indonesia memasuki zaman sejarah dan mengenal sistem kerajaan yang beragama Hindu. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah sebagai berikut: 

  a.    Kerajaan Hindu di Kalimantan Timur 
            Pada tahun 400 masehi merupakan tonggak perkembangan agama Hindu dengan didapatkan prasasti batu dalam bentuk “Yupa” di tepi sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang menyebutkan nama “Kerajaan Kutai”. Yupa adalah batu tertulis berbentuk tiang yang digunakan dalam upacara agama. 
           Di Kutai ditemukan tujuh buah yupa. Salah satunya menyebutkan nama Raja Kudungga yang berputra Aswawarman. Aswawarman berputra tiga orang yang tertua bernama Mulawarman. Mulawarman disebut sebagai raja yang bijaksana, kuat dan berkuasa pada masa itu, serta mengadakan yadnya. Para Brahmana mendirikan yupa untuk peringatan yadnya ini. 
           Pada Yupa yang lain juga disebutkan raja Mulawarman telah menghadiahkan 8.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di lapangan Waprakeswara. 


   b.    Kerajaan Hindu di Jawa Barat 
           Perkembangan agama Hindu di Jawa Barat diperkirakan terjadi sekitar abad ke lima masehi, ditandai dengan kerajaan Hindu Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman. Selain itu ditandai juga dengan penemuan tujuh buah prasasti batu atau Saila Prasasti, diantaranya: Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Pasirawi, Prasasti Tugu, srta Prasati Lebak yang ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta, berbentuk syair yang memberikan keterangan tentang kerajaan Tarumanegara. 
           Prasasti Ciaruteun menyebutkan bahwa “Purnawarman adalah raja yang gagah berani bagaikan Dewa Wisnu”. Dalam Prasasti Tugu menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman dalam pemerintahannya yang ke 22 menggali sungai Gomati yang panjangnya 12 km dalam waktu 21 hari dan memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para Brahmana”. 

  c.    Kerajaan Hindu di Jawa Tengah 
           Kerajaan di Jawa Tengah telah ada sekitar tahun 650 masehi. Hal ini terbukti dengan ditemukannya prasasti Tuk Mas di lereng Gunug Merbabu menggunakan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta berangka tahun 650 masehi. Prasasti ini menyebutkan pujian pada Sungai Gangga dan berisi atribut Dewa Tri Murti berupa Tri Sula, Kendi, Kapak, Cakra, dan Bunga Teratai. Dengan demikian pemujaan Dewa Tri Murti telah muncul di Jawa Tengah sejak pertengahan abad ke-7 masehi. 
           Selain itu ditemukan juga prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh raja Sanjaya yang memuat tiga bait pemujaan kepada Dewa Siwa, satu bait untuk Dewa Brahma dan satu bait untuk Dewa Wisnu. Selain itu adanya Candi Prambanan yang merupakan Candi Hindu terbesar di Jawa Tengah merupakan peninggalan kerajaan ini. 

  d.   Kerajaan Hindu di Jawa Timur 
           Perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur ditandai dengan ditemukannya Prasasti Dinoyo dekat kota Malang yang berangka tahun 682 saka atau 760 masehi. Prasasti ini menerangkan bahwa pada tahun 670 masehi di Jawa Timur terdapat Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya Dewa Simha yang menganut agama Hindu dengan pemujaan utama Dewa Siwa. Disamping itu disebutkan pula pembuatan arca Maha Rsi Agastya yang diakui sebagai tokoh yang membawa agama Hindu dari India Selatan ke Indonesia. 
           Selanjutnya muncullah Dinasti Isanawamsa. Cikal bakalnya adalah Empu Sindok yang memerintah pada tahun 929-974 M. 
           Kemudian muncul Raja Dharmawangsa Teguh yang dalam pemerintahannya sangat memperhatikan perkembangan karya-karya sastra. Raja Dharmawangsa Teguh yang memprakarsai penulisan kembali karya-karya Bhagawan Byasa dalam bahasa Jawa (Mangjawaken Byasa Mantra), yaitu Mahabharata dan karya Bhagawan Walmiki, yaitu Ramayana. 
           Setelah Raja Dharmawangsa Teguh digantikan oleh Raja Airlangga. Kehidupan dan kemakmuran rakyatnya sangat diperhatikan oleh raja Airlangga. Oleh karena itu Raja Airlangga diarcakan sebagai Wisnu mengendarai Garuda. Setelah Airlangga muncul kerajaan Kediri. Banyak karya sastra yang lahir pada masa ini, seperti karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, yaitu Kekawin Bharatayudha. 
           Setelah Kerajaan Kediri muncul Kerajaan Singasari pada tahun 1222 M sebagai pendirinya adalah Ken Arok. Dalam pemerintahannya beliau didampingi oleh Purahita (Pendeta kerajaan). Banyak bangunan suci Hindu yang didirikan pada masa ini, seperti Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. Sejak tahun 1293 M Agama Hindu di Jawa Timur dibina oleh Kerajaan Majapahit. Puncak perkembangan Agama Hindu terjadi pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Kekuasaan kerajaan Majapahit meliputi seluruh nusantara. Pada jaman ini banyak karya besar yang muncul sepeerti karya Empu Tantular (Sutasoma), Empu Prapanca (Kekawin Arjuna Wiwaha). Disamping itu kitab-kitab hukum Hindu juga dikeluarkan dan banyak didirikan bangunan-bangunan suci. Diantaranya adalah Candi Penataran di Blitar merupakan bangunan suci Hindu di Jawa Timur. 
  e.    Kerajaan Hindu di Bali 
           Prasasti Blanjong adalah peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Bali. Prasasti Blanjong berisi tulisan berbahasa Bali Kuno dan Bahasa Sansekerta. Sebelum ditemukannya Prasasti Blanjong ada beberapa prasasti yang berasal dari Bali tetapi tidak terdapat tahun pembuatannya. Disamping itu juga ditemukan cap-cap kecil yang disimpan dalam stupa yang terbuat dari tanah liat. Cap-cap kecil ini bertuliskan mantra Budha yang disebut Ye Te Mantra. Mantra sejenis juga ditemukan di Jawa Tengah, yaitu pada pintu masuk Candi Kalasan yang berasal dari abad ke-8 M. 
           Pada prasasti kuno di Bali didapatkan keterangan bahwa pada abad ke-8 M terdapat suatu kerajaan yang pusat pemerintahannya di Singhamandawa. Akan tetapi tidak disebutkan raja yang memerintah. Setelah ditemukannya prasasti Blanjong, menjelaskan tentang nama raja Bali yang bergelar Warmadewa, yaitu Sri Kesari Warmadewa. Sejak saat itulah raja-raja Bali bergelar Warmadewa.  Pada tahun 905 saka muncul seorang raja perempuan (ratu) bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi. Setelah pemerintahan Sriwijaya Mahadewi muncul nama raja Udayana Warmadewa. Beliau didampingi oleh permaisurinya yang bernama Sri Gunapriya Dharmapatni (Mahendradata). Anak wungsu Raja Udayana yaitu Marakata kemudian menggantikan ayahnya sebagai Raja Bali. 
           Setelah itu muncul nama Anak Wungsu sebagai pengganti pemerintah di Bali. Beliau banyak mengeluarkan prasasti yang berangka tahun 944 saka. Prasasti ini memuat sapata (kata-kata sumpah) yang menyebut nama-nama Dewa Hindu. Diantaranya menyebutkan bahwa rakyat Bali percaya dengan dewa-dewa dan Maha Rsi seperti Maha Rsi Agastya. 
           Selanjutnya yang memerintah kerajaan Bali adalah Raja Bedahulu. Beliau adalah Raja Bali yang terakhir memerintah Bali tahun 1259 saka dengan gelar Sri Astasura Rata Bumi Banten. Setelah enam tahun pemerintahannya pada tahun 1265 saka, Gajah Mada dapat menaklukannya. Sejak Bali dikuasai oleh Majapahit, kerajaan Bali dipimpin oleh raja Sri Kresna Kepakisan. Pusat pemerintahan yang awalnya di Samprangan lalu dipindahkan ke Gelgel. 
           Selanjutnya pada pemerintahan Dalem Waturenggong, Bali mengalami masa keemasan. Agama Hindu berkembang dengan pesat karena aspek keagamaan ditata kembali oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Purahita pendamping Raja Dalem Waturenggong. Peninggalan Hindu terbesar adalah Pura Besakih yang merupakan tempat pemujaan umat Hindu diseluruh dunia.
Sumber : http://mahadewi2.blogspot.com/2011/05/sejarah-perkembangan-agama-hindu-di.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar